Indahnya Cinta Karena Allah


Penulis: Ummul Hasan
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.
“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”

Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita?
Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah).
(“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.”
Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam h`dits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i.
“…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal itu terjadi bagi dirinya.”

Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata, “Hal ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan mustahil, padahal tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya mendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan dengan saudaranya dalam merasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat dengan hati yang selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah Ta’ala memaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.”
Abu Zinad berkata, “Sekilas hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukan dirinya dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk memperlakukan lebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang paling utama, maka jika dia menyukai saudaranya seperti dirinya sebagai konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalam hal keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya terpenuhi dan kezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan imannya adalah ketika dia memiliki tanggungan atau ada hak saudaranya atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secara adil sekalipun dia merasa berat.”
Diantara ulama berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain itu ibarat satu jiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya karena keduanya laksana satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:
“Orang-orang mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim)
“Saudara” yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanya kesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi “saudara” dalam artian yang lebih luas lagi. Dalam Bahasa Arab, saudara kandung disebut dengan Asy-Asyaqiiq ( الشَّّقِيْقُ). Sering kita jumpa seseorang menyebut temannya yang juga beragama Islam sebagai “Ukhti fillah” (saudara wanita ku di jalan Allah). Berarti, kebaikan yang kita berikan tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara.
Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jaman susah. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau mengutamakan orang lain?”
Wahai saudariku -semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah seorang mukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Seberat apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang, ketahuilah bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam oleh Rasulullah jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh melebihi kesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allah terhadap mereka dalam Surat Al-Hasyr:
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)
Dalam ayat tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk memperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka an laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah. Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yang telah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum muhajirin (orang yang berhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yang memang merupakan penduduk Madinah. Saudariku fillah, perhatikanlah dengan seksama bagaimana Allah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang mengutamakan saudara mereka. Betapa mengagumkan sikap itsar (mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allah memuji kaum Anshar sebagai Al-Muflihun (orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat) karena kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga sedang berada dalam kesulitan. Allah Ta’aala memuji orang-orang yang dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orang yang beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar melainkan karena keimanan mereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan kepada Dzat yang telah menciptakan manusia dari tanah liat kemudian menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki.
Tapi, ingatlah wahai saudariku fillah, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketika mereka membisikkan ke dada kita “utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama mu yang menjadi taruhannya.” Saudariku fillah, hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia pun langsung mengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf depan masih ada tempat kosong, lalu dia berdalih “Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf belakang.” Ketahuilah, itu adalah tipu daya syaithon! Hendaklah kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan agama kita. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148)
Berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan agama, bukan dalam urusan dunia. Banyak orang yang berdalih dengan ayat ini untuk menyibukkan diri mereka dengan melulu urusan dunia, sehingga untuk belajar tentang makna syahadat saja mereka sudah tidak lagi memiliki waktu sama sekali. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menjaga diri kita agar tidak menjadi orang yang seperti itu.
Wujudkanlah Kecintaan Kepada Saudaramu Karena Allah
Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita…
Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)
Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya. Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut. Saudariku fillah, bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslimah lain -baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian?! Namun, sangat baik jika seorang wanita muslimah tidak mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahromnya jika dia takut akan terjadi fitnah. Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar kecintaan kepada sesama saudara muslimah. Insya Allah…
Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat
Dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita. Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan menyesal. Misalnya, sembari makan siang bersama teman kita bercerita, “Tadi shubuh saya shalat berjamaah dengan teman kost. Saya yang jadi makmum. Teman saya yang jadi imam itu, membaca surat Al-Insan. Katanya sih itu sunnah. Memangnya apa sih sunnah itu?” Teman yang lain menjawab, “Sunnah yang dimaksud teman anti itu maksudnya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang disunnahkan untuk membaca Surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at.” Lalu, teman yang bertanya tadi pun berkata, “Ooo… begitu, saya kok baru tahu ya…” Subhanallah! Sebuah makan siang yang berubah menjadi “majelis ilmu”, ladang pahala, dan ajang saling memberi nasehat dan kebaikan pada saudara sesama muslimah.
Mengajak Saudara Kita Untuk Bersama-Sama Menghadiri Majelis ‘Ilmu
Dari obrolan singkat di atas, bisa saja kemudian berlanjut, “Ngomong-ngomong, kamu tahu darimana kalau membaca surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at itu sunnah?” Temannya pun menjawab, “Saya tahu itu dari kajian.” Alhamdulillah bila ternyata temannya itu tertarik untuk mengikuti kajian, “Kalau saya ikut boleh nggak? Kayaknya menyenangkan juga ya ikut kajian.” Temannya pun berkata, “Alhamdulillah, insyaAllah kita bisa berangkat sama-sama. Nanti saya jemput anti di kost.”
Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan
Suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang aibnya kepada shahabat yang lain. Shahabat itu pun menjawab bahwa dia pernah mendengar bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki bermacam-macam lauk di meja makannya. Lalu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pun berkata yang maknanya ‘Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu (agar orang yang dinasehati bisa memperbaiki aib tersebut. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak. Agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain. Terdapat beberapa perincian dalam masalah ini -pen).’ Bentuk nasehat tersebut, bukan hanya secara lisan tetapi bisa juga melalui tulisan, baik surat, artikel, catatan saduran dari kitab-kitab ulama, dan lain-lain.
Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka
Sangat banyak orang yang baru ingin bertaubat bila nyawa telah nyaris terputus. Maka, diantara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat dosa kepada Allah Ta’ala.
Saudariku fillah, berbaik sangkalah kepada saudari muslimah mu yang lain bila dia menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita…
Tidak ada ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha ikhlash, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudariku fillah, manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada Allah!! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?
Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar !
Saudariku muslimah -semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran-, ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang hal tersebut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)
Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.’”
Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebutkan kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman, ‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat (artinya: “Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.” Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal yang menyenangkan). Allah Ta’aala menyediakan bagi kita lahan pahala yang begitu banyak. Allah Ta’aala menyediakannya secara cuma-cuma bagi kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah…
Maroji’:
  1. Terjemah Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyyah karya Ibnu Daqiiqil ‘Ied
  2. Terjemah Shahih Hadits Qudsi karya Syaikh Musthofa Al-’Adawi
  3. Sunan Tirmidzi
***
Artikel www.muslimah.or.id
 

Menikahi Wanita Yang Kurang Cantik Dengan Niat Ibadah

Pertanyaan: Saya seorang yang sudah menikah dan usiaku 35 tahun. Saya ingin menikah lagi dengan seorang wanita berusia 40 tahun, kurang cantik. Karena saya mengira bisa mendapatkan pahala dengan menikahinya, karena dia seorang janda. Saya menikahinya ikhlas di jalan Allah, agar memenuhi kebutuhan muslimah yang menjaga kesuciannya. Apakah sikap saya dibenarkan?

Jawab: Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘alaa Rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi, amma ba’du: Jika anda mampu menikah lagi dan sanggup bersikap adil terhadap istri-istri anda maka tidak ada masalah bagi anda untuk menikahinya. Kemudian keinginan anda untuk menikahi wanita yang sudah tua, kurang cantik, dalam rangka mewujudkan keinginannya dan memenuhi kebutuhannya maka tindakan anda dengan niat semacam ini akan mendapatkan pahala yang besar, insyaaAllah. Sikap anda memilih wanita tersebut termasuk salah satu bentuk zuhud yang terpuji. Abu Thalib al-Makki mengatakan: “Sanggup mencintai wanita yang agak kurang dari sisi fisik, wajah tidak cantik, dan sudah lanjut usia, termasuk salah satu bentuk zuhud.” Abu Sulaiman pernah mengatakan: “Zuhud ada pada semua aspek. Termasuk sikap seorang lelaki yang menikahi wanita tua atau yang penampilannya tidak menarik, dalam rangka zuhud terhadap dunia.” Malik bin Dinar mengatakan: “Tidak dilarang bagi kalian untuk menikahi wanita yatim. Dia akan mendapatkan pahala ketika dia memberi makan dan pakaian kepadanya. Dia wanita yang ringan belanjanya, rela dengan harta yang sedikit. Dari pada menikahi wanita putri orang kaya – wanita yang merasakan kemegahan dunia – maka dia menjadi beban suami, karena ingin mendapatkan semua yang dia inginkan. Dia meminta pakaian model ini, belikan selimut sutera, sehingga rontok sudah agamanya.” Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, lebih memilih wanita yang buta sebelah, dari pada saudari wanita ini yang sehat dan cantik. Ketika beliau ditawari, Imam Ahmad betanya: “Siapa yang lebih pandai?” Dijawab: Yang buta. Kemudian Imam Ahmad mengatakan: “Nikahkan aku dengannya.” Dan terkadang, menikahi wanita yang rendah (bukan anak orang penting), ada yang cacat fisiknya, dalam rangka menyenangkan hatinya, karena wanita semacam ini tidak dicintai, termasuk ibadah bagi hati, dalam berinteraksi dengan orang yang dicintai. Allahu a’lam *** muslimah.or.id sumber: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=158089 diterjemahkan oleh Ustadz Ammi Nur Baits
 

Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Suatu hal yang patut disayangkan pada saat ini. Wahyu yang sudah semestinya hamba tunduk untuk mengikutinya, malah ditolak begitu saja. Padahal wahyu adalah ruh, cahaya, dan penopang kehidupan alam semesta. Apa yang terjadi jika wahyu ilahi ini ditolak?! Wahyu Adalah Ruh Allah ta’ala menyebut wahyu-Nya dengan ruh. Apabila ruh tersebut hilang, maka kehidupan juga akan hilang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dengan perintah Kami.
Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syuro: 52). Dalam ayat ini disebutkan kata ‘ruh dan nur’. Di mana ruh adalah kehidupan dan nur adalah cahaya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah) Kebahagiaan Hanya Akan Diraih Dengan Mengikuti Wahyu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Kebutuhan hamba terhadap risalah (wahyu) lebih besar daripada kebutuhan pasien kepada dokter. Apabila suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan dokter tersebut ditangguhkan, tentu seorang pasien bisa kehilangan jiwanya. Adapun jika seorang hamba tidak memperoleh cahaya dan pelita wahyu, maka hatinya pasti akan mati dan kehidupannya tidak akan kembali selamanya. Atau dia akan mendapatkan penderitaan yang penuh dengan kesengsaraan dan tidak merasakan kebahagiaan selamanya. Maka tidak ada keberuntungan kecuali dengan mengikuti Rasul (wahyu yang beliau bawa dari Al Qur’an dan As Sunnah, pen). Allah menegaskan hanya orang yang mengikuti Rasul -yaitu orang mu’min dan orang yang menolongnya- yang akan mendapatkan keberuntungan, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 157) (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah) Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak Saat ini, poligami telah menjadi perdebatan yang sangat sengit di tengah kaum muslimin dan sampai terjadi penolakan terhadap hukum poligami itu sendiri. Dan yang menolaknya bukanlah tokoh yang tidak mengerti agama, bahkan mereka adalah tokoh-tokoh yang dikatakan sebagai cendekiawan muslim. Lalu bagaimana sebenarnya hukum poligami itu sendiri [?!] Marilah kita kembalikan perselisihan ini kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Allah Ta’ala telah menyebutkan hukum poligami ini melalui wahyu-Nya yang suci, yang patut setiap orang yang mengaku muslim tunduk pada wahyu tersebut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3). Poligami juga tersirat dari perkataan Anas bin Malik, beliau berkata,”Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir istri-istrinya dalam satu malam, dan ketika itu beliau memiliki sembilan isteri.” (HR. Bukhari). Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Nikahilah wanita yang kalian suka selain wanita yang yatim tersebut. Jika kalian ingin, maka nikahilah dua, atau tiga atau jika kalian ingin lagi boleh menikahi empat wanita.” (Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Nashir As Sa’di -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Poligami ini dibolehkan karena terkadang seorang pria kebutuhan biologisnya belum terpenuhi bila dengan hanya satu istri (karena seringnya istri berhalangan melayani suaminya seperti tatkala haidh, pen). Maka Allah membolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri dan dibatasi dengan empat istri. Dibatasi demikian karena biasanya setiap orang sudah merasa cukup dengan empat istri, dan jarang sekali yang belum merasa puas dengan yang demikian. Dan poligami ini diperbolehkan baginya jika dia yakin tidak berbuat aniaya dan kezaliman (dalam hal pembagian giliran dan nafkah, pen) serta yakin dapat menunaikan hak-hak istri. (Taisirul Karimir Rohman) Imam Syafi’i mengatakan bahwa tidak boleh memperistri lebih dari empat wanita sekaligus merupakan ijma’ (konsensus) para ulama, dan yang menyelisihinya adalah sekelompok orang Syi’ah. Memiliki istri lebih dari empat hanya merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i ketika ditanya mengenai hukum berpoligami, apakah dianjurkan atau tidak? Beliau menjawab: “Tidak disunnahkan, tetapi hanya dibolehkan.” (Lihat ‘Inilah hakmu wahai muslimah’, hal 123, Media Hidayah). Maka dari penjelasan ini, jelaslah bahwa poligami memiliki ketetapan hukum dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang seharusnya setiap orang tunduk pada wahyu tersebut. Tidak Mau Poligami, Janganlah Menolak Wahyu Ilahi Jadi sebenarnya poligami sifatnya tidaklah memaksa. Kalau pun seorang wanita tidak mau di madu atau seorang lelaki tidak mau berpoligami tidak ada masalah. Dan hal ini tidak perlu diikuti dengan menolak hukum poligami (menggugat hukum poligami). Seakan-akan ingin menjadi pahlawan bagi wanita, kemudian mati-matian untuk menolak konsep poligami. Di antara mereka mengatakan b`hwa poligami adalah sumber kesengsaraan dan kehinaan wanita. Poligami juga dianggap sebagai biang keladi rumah tangga yang berantakan. Dan berbagai alasan lainnya yang muncul di tengah masyarakat saat ini sehingga dianggap cukup jadi alasan agar poligami di negeri ini dilarang. Hikmah Wahyu Ilahi Setiap wahyu yang diturunkan oleh pembuat syariat pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Begitu juga dibolehkannya poligami oleh Allah, pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar baik bagi individu, masyarakat dan umat Islam. Di antaranya: (1) Dengan banyak istri akan memperbanyak jumlah kaum muslimin. (2) Bagi laki-laki, manfaat yang ada pada dirinya bisa dioptimalkan untuk memperbanyak umat ini, dan tidak mungkin optimalisasi ini terlaksana jika hanya memiliki satu istri saja. (3) Untuk kebaikan wanita, karena sebagian wanita terhalang untuk menikah dan jumlah laki-laki itu lebih sedikit dibanding wanita, sehingga akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami. (4) Dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menceraikannya, dengan menikah lagi ada yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya. (Lihat penjelasan ini di Majalah As Sunnah, edisi 12/X/1428) Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami Saat ini terdapat berbagai macam penolakan terhadap hukum Allah yang satu ini, dikomandoi oleh tokoh-tokoh Islam itu sendiri. Di antara pernyataan penolak wahyu tersebut adalah : “Tidak mungkin para suami mampu berbuat adil di antara para isteri tatkala berpoligami, dengan dalih firman Allah yang artinya,”Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (An Nisaa’: 3). Dan firman Allah yang artinya,”Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (QS. An Nisaa’: 129).” Sanggahan: Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil” dalam ayat di atas adalah kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil dalam rasa cinta, kecondongan hati dan berhubungan intim. Karena kaum muslimin telah sepakat, bahwa menyamakan yang demikian kepada para istri sangatlah tidak mungkin dan ini di luar kemampuan manusia, kecuali jika Allah menghendakinya. Dan telah diketahui bersama bahwa Ibunda kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha lebih dicintai Rasulullah daripada istri beliau yang lain. Adapun hal-hal yang bersifat lahiriah seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang suami yang mempunyai istri lebih dari satu untuk berbuat adil. Hal ini sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, dan Ibnu Hajar. Ada juga di antara tokoh tersebut yang menyatakan bahwa poligami akan mengancam mahligai rumah tangga (sering timbul percekcokan). Sanggahan: Perselisihan yang muncul di antara para istri merupakan sesuatu yang wajar, karena rasa cemburu adalah tabiat mereka. Untuk mengatasi hal ini, tergantung dari para suami untuk mengatur urusan rumah tangganya, keadilan terhadap istri-istrinya, dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, juga tawakkal kepada Allah. Dan kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga dengan satu istri (monogami) juga sering terjadi pertengkaran/percekcokan dan bahkan lebih. Jadi, ini bukanlah alasan untuk menolak poligami. (Silakan lihat Majalah As Sunnah edisi 12/X/1428) Apa yang Terjadi Jika Wahyu Ilahi Ditolak ? Kaum muslimin –yang semoga dirahmati Allah-. Renungkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini, apa yang terjadi jika wahyu ilahi yang suci itu ditentang. Allah telah banyak mengisahkan di dalam al-Qur’an kepada kita tentang umat-umat yang mendustakan para rasul. Mereka ditimpa berbagai macam bencana dan masih nampak bekas-bekas dari negeri-negeri mereka sebagai pelajaran bagi umat-umat sesudahnya. Mereka di rubah bentuknya menjadi kera dan babi disebabkan menyelisihi rasul mereka. Ada juga yang terbenam dalam tanah, dihujani batu dari langit, ditenggelamkan di laut, ditimpa petir dan disiksa dengan berbagai siksaan lainnya. Semua ini disebabkan karena mereka menyelisihi para rasul, menentang wahyu yang mereka bawa, dan mengambil penolong-penolong selain Allah. Allah menyebutkan seperti ini dalam surat Asy Syu’ara mulai dari kisah Musa, Ibrahim, Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, Luth, dan Syu’aib. Allah menyebut pada setiap Nabi tentang kebinasaan orang yang menyelisihi mereka dan keselamatan bagi para rasul dan pengikut mereka. Kemudian Allah menutup kisah tersebut dengan firman-Nya yang artinya,”Maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata, dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy Syu’ara: 158-159). Allah mengakhiri kisah tersebut dengan dua asma’ (nama) -Nya yang agung dan dari kedua nama itu akan menunjukkan sifat-Nya. Kedua nama tersebut adalah Al ‘Aziz dan Ar Rohim (Maha Perkasa dan Maha Penyayang). Yaitu Allah akan membinasakan musuh-Nya dengan ‘izzah/keperkasaan-Nya. Dan Allah akan menyelamatkan rasul dan pengikutnya dengan rahmat/kasih sayang-Nya. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah) Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman terhadap apa yang beliau bawa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Do’a hamba-Nya. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ashabihi ath thoyyibina ath thohirin. *** Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id
 

Siapa yang menyuruhmu berhijab?

Musuh-musuh islam tidak henti-hentinya menjauhkan muslimah dari agama yang haq. Disetiap tempat dan kesempatan mereka melontarkan tuduhan-tuduhan kepada kaum muslimah, mereka selalu mengatakan islam adalah penjara bagi wanita karena menyuruh wanita untuk tetap tinggal dirumahnya dan mengizinkan keluar jika dengan hijab. Wahai saudaraku muslimah, untuk siapa kau berjilbab? Untukmu ukhti muslimah, kemana akan kau bawa dirimu….
Pada gemerlapnya dunia, pada kemilaunya harta atau ketampanan seorang pria…. Walau kau harus membuka hijabmu untuk mendapatkan semua yang kau inginkan, Maka…. Kehinaan yang kau dapatkan. Wahai saudaraku muslimah, siapakah yang menyuruhmu berjilbab? Untukmu ukhti muslimah, kemana akan kau bawa dirimu….
Pada kemuliaan jiwa, pada keridhoan sang pencipta, atau mulianya menjadi bidadari surga…. Walau hinaan dan cacian yang harus kau terima demi menuutupi hijab yang di syariatkan oleh agama, Maka…. Kebahagiaan yang akan kau dapatkan. Katakan TIDAK pada gemerlapnya dunia, jika hijabmu harus terlepas karenanya! Katakan TIDAK pada kemilaunya harta, jika hijabmu harus tebusannya! Karena hijabmu adalah benteng kemuliaan diri mu. Bahwasanya yang menyuruhmu berjilbab, yang menyuruhmu berbusana muslimah…. Yang menyuruh Allah dan Rosul-Nya, dan konsekuensi kita sebagai seorang muslimah maka wajib bagi kita untuk menaatinya. Karena Allah yang menciptakan kita, Allah yang menghidupkan kita, Allah yang memberi rizeki pada kita, Allah yang memberi segalanya pada kita…. Alqur’an memerintahkan kita berjilbab, Allah yang menciptakan kita yang menyuruh kita berhijab! Kemudian Ustad Yazid membawakan surah Al-Ahzab ayat 59 yang artinya: Wahai nabi! katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita kaum muslimin “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Peyayang. Setiap wanita, TIDAK ada udzur baginya untuk berhijab..
 

Heart and Brain

Suatu hari , saat HEART dan BRAIN sedang berseteru karena suatu hal dan itu CINTA. BIASA TERJADI!! , karena keduanya memang kadang tak sejalan.. apa yang dipikirkan BRAIN tak Dear , HEART.. Memang aku tak pernah bisa PINTAR dalam urusan CINTA, tapi pliss jangan pernah kenang dia lagi. Karena kau hanya buatku cenat cenut dengan apa yang kau perbuat,,, ttd BRAINღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear Brain Oke , aku bisa melakukannya. Tapi kamu juga harus berhenti MEMIKIRKAN dia,, itu hanya buatku galau. bagaimana aku bisa berhenti mencintainya kalo kau saja tak pernah berhenti memikirkannya,, ttd HEARTღ¸.•´
_____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ dear HEART, bagi ku itu susah ,, karena kau seharusnya yang mengeluarkan dia dari HATI mu dulu dan kemudian aku akan hilangkan semua ingatan tentangnya dari memory ku,, mengerti! ttd BRAINღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear BRAIN , Heh!! aku emang gakk bisa sepinter kamu !! tapi asal kamu tauu bagiku itu juga sulit..memang sesorang bisa hilang dari hidup ini , tapi cintanya tak akan pernah bisaa hilang…aku memang kadang bodoh dalam menerima kenyataan aku masih belum bisa membebaskan hati ini..dan itu buatku sakit sendiri.. ttd HEARTღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear HEART , Bukan , kau tak bodoh,apa yang kau katakan memang benar. butuh waktu untuk bisa melupkannya.. melupkannya?? ohh mungkin kamu takkan pernah bisa melupakannya,,karena akuu sudah terlanjur telah menyimpan semua dalam memory otakku..sepintar pintarnya aku , aku pun kadang tak pernah mengerti tentang apa yang kau rasakan.. Aneh! begitu mudah untukku untuk memahami soal MATEMATIKA daripada memahamimu , HEART,,, ttd BRAINღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear BRAIN.. aku memang kadang sulit untuk dipahami olehmu , karena aku tak pernah menggunakan LOGIKA dalam memahami suatu hal. tak bisa sepertimu..maaf karenaku , kau yang menanggung semua bebannyaa..saaat aku galau , kau tak pernah bisa berfikir kan??? tolong kuatkan hatimuu ini… ttd HEARTღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear Heart , tak seperti itu , tapi aku tahu,, apa yang berasal darimu..tulus dan apadanya.. kau tak pernah berbohong .. aku bisa berbohong untuk pikiranku , tapi tak bisa aku membohongi perasaanmu..mari..aku bantuu , aku akan mencoba untuk menguatkanmu , memberi sugesti padamu..berpikir semua AKAN BAIK BAIK SAJA… ttd BRAINღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear BRAIN, karena TUHAN menciptakanku untuk tak membohongi diriku sendiri, karena apa? karena aku murni dan semua yang berasal dariku adalah tanpa rekayasa.. Namun, apalah arti aku tanpa dirimu BRAIN? aahh..tak seharusnyaa kita bertengkar seperti ini..kita itu saling melengkapi..dan punya hubungan SIMBIOSIS , dan kuharap itu MUTUALISME samasama saling menguntungkan kita berdua..apa yang terbaik unutk kita sekarang?? ttd HEARTღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear Heart, Bagaimana kalo kita berjuang bersama? jangan begini terus.. kita harus mengambil keputusan..jangan sampai waktu kita terbuang karena kita tak sejalan. ayo ini pikiranku yang RASIONAL..bebaskan lah hatimuu, bagaimana kau akan tahu siapa orang yang mencintaimu menyanyangimu , kalo kau sajaa tak memberi celah di ruang hatimu.. ttd BRAINღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear BRAIN, Baiklah , aku pun merasa begitu, Maaf jika aku sulit untuk kau pahami,, namun percayalah , aku akan slalu membimbing ke mana arah yang benar..percayalah padakuu, segarkan pikiran..hapus semua masalah..dan mari songsong masa depan bersama *ecieeee* ttd HEARTღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ dear Heart, Iya,,pasti..aku akan membantumuu…kita saling membantu.. kuatkan dan jaga hatimu..hihih ttd BRAINღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dear BRAIN, tetaplah BERPIKIR POSITIV , raih yang ingin kau raih,,,aku mendukungmu slalu..dengan penuh Cinta dan Kasih sayang,, selama TUHAN masih ada , Matahari m`sih bersinar , dan donat masih bulat.. Jangan Menyerah.. Mo the ving to the on MOVING ON bibeeh *eciee*:D ttd HEARTღ¸.•´ _____________________________ (¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ Dan akhirnyaa , HEART dan BRAIN damai kembali seperti dulu lagi. Karena “hatiku kuat karena aku tahu kelemahanku , aku pintar karena aku tahu kebodohanku dan aku tertawa karena aku tahu sedihku.. “ TEORI SAKIT MENYAKITI Seseorang yang menyakitimu akn terlihat lemah nantinya , sedangkan yang tersakiti akan lebih kuat nantinya.. setiap tindakan reaksinya akan berlawanan SEMOGA YANG TERJADI TIDAK AKAN TERULANG LAGI.. SIMPAN SEMUA MOMENT2 BAHAGIA, BERDOA UNTUK YANG TERBAIK.. (✿◠‿◠) AAMIINN (✿◠‿◠) ♥ Salam Ta'aruf Fillah ♥ seperti yang dirasakan HEART.. (--__--")
 

Sepucuk Pinta

.. Yaa Rabbi... Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang ketika gundah, diam ketika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian. Jadikanlah kami orang yg .. Selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sebijaksana Umar bin Khattab, Sedermawan Utsman bin Affan, sepintar Ali bin Abi Thalib,Sesederhana Bilal dan setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhum..Amiin ya Rabbal'Alamin.
Wahai Adam yang akan bertahta di hatiku sebagai Calon Imamku. Jika engkau mengharapkan harta menggunung tinggi, aku pasti akan mengecewakanmu.. Jika engkau mengharapkan wajah secantik puteri, aku pasti akan mengecewakanmu.. Jika engkau mengharapkan layanan sebaik khadijah, aku pasti akan mengecewakanmu.. Jika engkau mengharapkan teman yang setia di sisi, aku pasti akan mengecewakanmu.. Wahai Adam yang akan bertahta di hatiku sebagai Calon Imamku. Sebelum benar-benar engkau hadir, inginku bertanya sesuatu padamu.. Adakah engkau sanggup menerimaku sebagai isteri jika tidur lena mu ku ganggu untuk kita bersama-sama munajat padaNya.. Adakah engkau sanggup jika aku tidak sudi engkau menjadi imamku untuk sholat subuhku karna ku ingin dirimu sholat subuh berjemaah di masjid..
Adakah engkau sanggup jika selepas pulangnya engkau dari sholat berjemaah aku tidak merelakan engkau tidur semula..malahan aku ingin engkau menghidupkan majlis taklim (saling berkongsi pengisian) antara aku & dirimu.. Adakah engkau sanggup jika setiap pagi aku ingin kau membaca Al Matshurat bersama ku.. Adakah engkau sanggup jika selepas kau pulang dari bekerja, aku masih lagi dengan tugasku di luar.. Adakah engkau sanggup jika ketika engkau di rumah,aku sering meminta izin untuk keluar dengan alasan berjumpa rekan-rekan sedangkan pada hakikatnya aku ingin meneruskan medan perjuanganku.. Adakah engkau sanggup jika setiap senin & kamis kau menemaniku berpuasa sunat.. Adakah engkau sanggup jika bersama-samaku menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan kita.. Adakah engkau sanggup jika aku menasihatimu & membawamu lebih mendekatiNya.. Adakah engkau sanggup jika akan ada malam tertentu rumah kita akan dipenuhi orang untuk majlis ilmu.. Adakah engkau sanggup jika tamu kita sering bertamu sehingga tidur di rumah kita karna ia mungkin akan mengganggumu.. Adakah engkau sanggup jika ujung minggu kita dipenuhi dengan menziarahi orang tua kita.. Adakah engkau sanggup jika aku meminta dirimu menceritakan kisah sirah Rasulullah SAW & perjuangan para sahabat kepada anak-anak kita sebelum mereka tidur.. Adakah engkau sanggup jika aku tidak merelakan engkau memberi pelbagai kemewahan pada anak-anak kita karna aku ingin mereka menjadi hambaNya yang bersyukur selalu.. Adakah engkau sanggup jika tanganmu sentiasa ku pegang walau ke mana arah tuju ketika kita berjalan bersama.. Adakah engkau sanggup jika keluar berjalan denganku yang bertudung labuh, berbaju longgar, dan seringkas yang mungkin di hadapan hambaNya yang lain.. Adakah engkau sanggup jika masakanku tidak sesedap yang kau harapkan.. Adakah engkau sanggup jika layananku nggak sempurna padamu.. Wahai Adam yang akan bertahta di hatiku sebagai Calon Imamku. Aku tahu bagimu pernikahan itu menghalalkan segalanya…tapi lain dari persepsiku… Sememangnya benar pernikahan itu menghalalkan segala apa yang terhijab antara aku dan dirimu… Tapi aku ingin kau juga mengetahui & mengerti bahwa pernikahan jua adalah jalanku untuk ke syurgaNya.. Pernikahan jua adalah jalan untuk kita melahirkan mujahid mujahidah yang soleh solehah.. Sememangnya aku akan berusaha semampuku untuk membahagiakanmu karna walau apa yang berlaku, Kau tetap suamiku.. Namun telah kupatrikan dalam diriku untuk terus memperjuangkan segala apa yang ku perjuangkan kini… Aku memberitahu segala ini terlebih awal kerana aku tidak ingin engkau menyesali jika perkara ini akan terjadi.. Karna itu telah dari awal ku sediakan diriku untuk membiarkan engkau mencari yang terbaik untuk dirimu.. Karna cukuplah Allah bagiku.. mungkin bersamaku akan membuatkan dirimu merasa bosan & tiada kehidupan .. Tapi sadarlah wahai bakal suamiku bahwa cara hidup Rasulullah SAW itulah yang terbaik.. Dalam rumah tangga kita pasti ada senda guraunya.. Cuma aku mungkin akan lebih sibuk dengan gerak kerja ku di jalan-Nya.. Krna telah ku pilih jalan-Nya..hingga akhir hayatku akan ku terus di jalan-Nya dan.. Ku bermohon semoga hembusan nafasku yang terakhir jua adalah di jalan-Nya..terimalah diriku seadanya Dunia ini sudah tidak lama lagi.. jika ada jodoh di dunia, Kita akan bertemu atas ikatan pernikahan yang sah atas namaNya.. Tidak ku mengharapkan engkau seorang yang terlalu mulia.. Cukuplah bagiku jika engkau sadar hakikat dirimu yaitu hamba Allah.. Karna jika engkau sadar, pastinya engkau akan menjalankan tanggungjawabmu sebagai hambaNya.. Jika tiada jodoh kita di dunia... semoga kan bertemu di syurga... InsyaAllah... Aku ingin kau tahu bahwa cinta Ilahi tetap yang utama di hatiku..dan aku mencintaimu kerana Dia~ Sekian kata khas untukmu wahai Adam yang akan bertahta di hatiku sebagai Calon Imamku. sumber : sajadah cinta dalam alunan tasbih mahabbah rindu..